BALADA FRIENDSTER DAN FACEBOOK
Memang menyenangkan jadi anak muda zaman sekarang. Banyak sekali yang ditawarkan untuk dapat menyemarakkan hidup. Tidak berapa lama setelah MTV (sebuah stasiun tv musik yang dianggap sebagai pelopor tren anak muda) muncul, dunia seakan berputar begitu cepat. Belum lagi dengan teknologi-teknologi lain yang semakin berkembang dan mudah diakses. “Wah, pokoknya seru, deh!” (Ini mengutip kesan teman saya tentang Facebook yang sedang trend).
Ok. Saya tidak akan membahas sisi budaya konsumeris yang semakin menggila ditengah kehidupan zaman sekarang. Karena saya hanya ingin bercerita ringan-ringan saja tanpa bermaksud memberikan penilain negatif atau kritis. Dan juga berhubung nama blog ini adalah TongSampahSociety, maka saya berhak juga, donk, ngomongin apapun yang saya mau. Hehehe..
Apa sih yang sedang trend di kalangan anak muda sekarang ? Kalau pertanyaan itu ditanyakan pada kita, kita pasti akan bingung juga menjawabnya. Soalnya, satu-satunya jawaban yang paling masuk akal dan mudah dicerna adalah: banyak. Saya yang masih mengaku sebagai generasi muda pun akan mengidentifikasi hal yang sama. Banyak. Susah kalau mau diurai satu-satu. Lagian kepanjangan, jadi capek juga nyebutinnya.
Kalau diterjemahkan secara bebas (dan nggak perlu verifikasi ilmiah sana sini), kata trend itu sebenarnya menunjukkan apa yang sedang in pada masa tersebut, apa yang sedang paling banyak dijadikan acuan dan dilakukan, baik oleh individu ataupun kelompok pada suatu masa. Trend ini menjadi mainstream dan kalau mau diterjemahkan lagi lebih sederhana, menjadi kiblat kategori ‘anak gaul’.
Trend ini bisa apa saja. Kalau yang umum terlihat dari anak-anak muda kota besar adalah HP (berkamera dan kalau bisa sih, 3G! Lebih bagus lagi kalau PDA Phone atau Blackberry), mp3 player, friendster, dan facebook. Ha! Empat hal ini sepertinya rata-rata dimiliki oleh anak muda di kota besar. Kalau HP dan mp3 player sudah seperti uang receh (saking banyaknya), maka yang virtual seperti Friendster dan Facebook juga sama menggilanya. Kalau mau dibilang up-to-date, ya minimal punya friendster atau facebook.
Nah, urusan si Friendster dan Facebook ini kadang menjadi hal yang membuat saya heran. Kenapa sih semua anak muda rata-rata suka mainan Friendster atau Facebook ? Padahal kedua hal itu, fungsinya sama. Sebagai bentuk jaringan virtual yang menghubungkan individu ke individu lainnya. Yang sejenis dengan dua hal ini juga banyak, dengan berbagai sebutan dan kelebihan yang ditawarkannya. Biasanya, alurnya akan begini, orang punya Friendster dulu (karena dia yang paling duluan muncul), baru kemudian sign-up di Facebook.
Untuk yang satu ini, saya juga korbannya. Hehehehe… Dulu ketika awal-awal Friendster muncul dan mulai jadi trend, salah satu teman saya ‘memaksa’ saya untuk ikutan gabung di Friendster. “Seru tau, Ma! Elu bisa ngumpulin teman sebanyak-banyaknya, bisa nyari temen, bisa nulis testi, nulis blog, nulis bulettin, upload foto, punya profie, bla..bla..bla..”. Teman saya tidak bisa berhenti mengoceh tentang enaknya punya Friendster dan kenapa saya harus ikutan gabung.
“Tapi kan gue udah kenal sama elu, juga. Suka sms-an juga. Ngapain gue mesti pake Friendster kalau cuma mau ngobrol doank sama elu ?”. Itu pertanyaan polos saya karena bingung dengan si teknologi baru ini. “Beda! Udah deh! Elu sign-up dan entar lo tau sendiri gimana! Lagian basi deh lo hari gini gak punya Friendster!”. Malas berdebat, akhirnya ya sudah, saya ikuti saran dia.
Memang pada akhirnya saya merasakan juga gunanya Friendster. Akhirnya setelah 5 tahun terpisah, saya bertemu lagi dengan sahabat saya semasa SMP yang sekarang tinggal di Canada. Karena Friendster pula lah, untuk pertama kalinya setelah saya susah sekali cari nomor kontak dia (dan lupa alamat emailnya diaaa.!), saya berkomunikasi dan bertemu dengan dia saat dia pulang ke Indonesia. Nah, ini baru guna!
Masa Friendster waktu itu saya perhatikan malah jadi ajang banyak-banyakan teman. Hehehehe.. Ada rasa bangga ketika melihat jumlah teman yang sampai menembus angka 500-an (bahkan kalau bisa sampai full tuh accountnya!). Dan si Friendster ini, selain jadi tempat untuk jaringan virtual, sekaligus menjadi media penegasan bahwa si orang empunya Friendster adalah orang yang supel. Temannya banyak.
Masa Friendster lewat, diawal tahun kemarin, tiba-tiba kejadian serupa terulang. Teman saya memaksa saya (kembali) untuk ikutan Facebook.
Saya : “Gue kan udah punya Friendster, ngapain lagi sih ikutan Facebook ?”
Dia : “Beda! Asli beda!”
Saya : “Ah apanya yang beda sih ?! Sama aja kan! Isinya cuma buat nge-poolin temen-
Temen doank!”
Dia : “Yeee..kalo ini lebih meriah! Lo bisa sharing foto, lebih banyak aplikasi, bisa kirim-kiriman gift, bisa ini…bisa itu…ini…itu…”
Halah! Apalagi sih ? Banyak banget. Perasaan jadi nggak ada habisnya, deh. Dan begitu pula akhirnya. Saya buka account di Facebook.
Sekarang, seluruh teman-teman saya punya account di Friendster dan Facebook. Kalau mau diperluas lagi, sebagian dari mereka pasti punya multiply, skype, dan blog. Termasuk apa yang saya kerjakan sekarang dengan teman-teman. Punya blog. Mau itu blog keroyokan atau personal. Mau itu nempel Friendster / Facebook, atau bikin blog khusus (gratisan bahkan sengaja bayar!).
Efeknya ? Memang menakjubkan, ya! Saya ke kantor, teman-teman sekantor saya buka Facebook. Saya ke café, yang sedang online di café pun buka Facebook. Saya ketempat pacar saya, yang dibuka Facebook. Sampai tadi malam ketika saya online dan menyapa teman saya, yang dia lakukan adalah : “Gue lagi mainan kuiz di Facebook nih! Mau nyaingin si A dapat pointnya!”.Hm, lama-lama harus buka Facebook Society.com nih kayaknya. Hehehehe..
Well, lucu juga sih bagaimana trend itu awalnya muncul dan menjadi bagian dalam hidup kita. Bahkan nggak bisa lepas. Nggak peduli mau fungsinya sama atau tidak. Efek keranjingannya setara dengan orang sakau. Untuk yang satu ini, memang nggak ada obatnya.
Jadi, mau dibilang gaul ? Coba keluarkan CV-nya, dan lihat, apakah disitu sudah ada account Friendster, Facebook, Skype, personal blog, atau apapun itu, atau belum ? (AS)


