
SUSAH, SIH. TAPI BISA BERUBAH NGGAK YA ?
June 28, 2008SUSAH, SIH. TAPI BISA BERUBAH NGGAK YA ?
“Memang susah tinggal di Indonesia.”, begitu yang belakangan terlontar dari sejumlah orang, baik yang saya kenal dekat ataupun yang tampangnya baru saya lihat pada hari itu. Entah bagaimana ceritanya,tiba-tiba mereka jadi curhat colongan tentang situasi jaman sekarang yang ‘serba susah’. Kata ‘serba susah’ ini menjadi primadona dalam setiap pembicaraan saya dengan banyak sekali orang. Yah, semacam catch phrase modelnya Cinta Laura. Rata-rata orang pasti menyebutkan istilah itu manakala diminta pendapat seputar hidupnya.
Pagi ini, tidak lama setelah saya bangun dari tidur, tiba-tiba kalimat dan istilah itu terlintas dalam benak saya. Kebiasaan merenung (tidak penting) saya di pagi hari, membuat saya bertanya, apa sih sebenarnya yang dibilang sulit tinggal di Indonesia ? Ada apa sih dengan Indonesia ? Apa betul zaman ini benar-benar zaman yang ‘serba susah’ ? Dan sebagai salah satu orang yang punya andil dalam memadatkan Indonesia, saya mencoba menarik kembali ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya secara tidak sadar.
Hm, apa ya ? Dalam waktu seminggu ini. Oh ya, saya akan coba rentangkan dari tiga hari yang lalu. Saya ingat, saya baru tiba dari Surabaya setelah tugas lapangan kantor. Pulang sore hari dengan badan yang sangat letih (juga karena satu harian itu, saya harus keliling Porong dengan motor dan menghadapi kemacetan dan terik yang luar biasa), saya mengharapkan untuk dapat tiba dirumah secepatnya dan langsung istirahat. Yah, apa mau dikata. Saya tidak tahu entah kenapa hari itu bencana kemacetan Jakarta berada pada titik puncak. Jalan tol dan protokol yang saya tahu tidak semacet itu pada jam saya tiba, tiba-tiba tersendat. Lama sekali.
Dengan tampang yang mulai BT, saya bertanya pada sopir taksi yang kelihatannya juga bingung. “Kayaknya ada demo, deh, Non.”, begitu katanya sambil celingak-celinguk keluar. Ufgh! Macet. Demo. Ya..ya.. Lagu lama. Tapi masa’ sih demo kali ini bisa bikin macet seluruh Jakarta ? Keterlaluan banget!
Mendekati Semanggi, saya mulai melihat mobil-mobil tahanan polisi berjaga di ujung putaran Semanggi. Semua orang berhenti dan melihat ke arah Jln. Sudirman, termasuk orang-orang yang membawa kamera mereka (yang saya asumsikan pastilah wartawan, dan bukan turis!). Berkumpul di atas jembatan Semanggi. Pahamlah saya mengapa semua ini bisa membuat Jakarta “membeku” parah.
Diseberang saya, sudah terguling sebuah mobil yang dibakar massa. Arah Jln. Jend. Sudriman menuju Blok M, terblokir total karena si mobil yang digulingkan di tengah jalan itu. Dari atas jembatan Semanggi, saya masih bisa melihat para demonstran yang berdiri mengambil jarak dibelakang si mobil malang ini. Sesekali para demonstran mendekati mobil. Semua pikiran saya campur aduk melihat ini semua. Antara miris melihat mobil tersebut dibakar, dan kesal dengan mereka yang semangat menunggu untuk mobil terbakar habis.
“Pffh! Sampai kapan sih ini akan berakhir ?” Pikir saya. Semakin lama, saya tidak terlalu bersimpati dengan demo. Selain bikin macet (dan seringnya tidak menghasilkan apa-apa), kalau sudah tersusup provokator seperti ini, akan beda jadinya dan bisa memakan korban. Untung saja si penumpang mobil tersebut masih bisa keluar. Kalau sengaja dibakar massa hanya karena melihat plat mobil yang berwarna merah, kan menjadi tidak manusiawi lagi. Tapi disisi lain saya juga sangat memahami mengapa mereka semua berubah menjadi bringas dan tidak terkendali.
Ditengah keletihan saya, saya teringat perjalanan sehari sebelumnya. Saya datang pada masyarakat korban lumpur Lapindo. Berbicara dengan mereka satu per satu tentang bagaimana kondisi mereka pasca janji-janji pemerintah dan Lapindo ? Jawabnya hanya memelas. “Yah, beginilah, Mbak. Kita juga sudah nggak tau lagi mau bagaimana..Apakah kehidupan akan jadi lebih baik ? Tapi sepertinya tidak buat kami.. Kami kini hanya mencoba menata kehidupan kami sedikit demi sedikit dengan daya upaya kami sendiri..Semua mahal, mbak, sekarang..”
Mahal. Kata-kata yang sama saya dengar ketika datang berkunjung ke sebuah komunitas ‘miskin kota’ di Bandar Lampung sebulan sebelumnya. Hari terakhir saya melakukan dialog dengan komunitas lokal adalah hari di mana BBM akan dinaikkan oleh pemerintah pada pkl. 00.00. Berita itu saya terima dari sebuah sms dan ditengah saya mendengarkan cerita-cerita warga, “Sekolah disini tidak gratis, Mbak. Sekarang sudah mahal. Saya harus mengeluarkan Rp.100.000,- – Rp.150.000,- perbulan untuk biaya sekolah anak saya. Padahal kami, pekerjaan tidak tetap begini. Belum lagi ancaman gusuran dari pemerintah, Mbak. Kami mau bagaimana lagi ?”.
Semakin saya tarik ke belakang, semakin banyak contoh-contoh yang keluar. Sebagai seorang yang bekerja menjadi ‘pelayan masyarakat’, saya dituntut untuk datang, berhadapan pada komunitas akar rumput, yang menempati porsi 80% dari total populasi penduduk Indonesia. Pada saat itulah saya selalu mendengarkan berbagai cerita mereka tentang kehidupannya. Dan, yah, problematik. Tidak berkesudahan.
Lantas, saya berandai-andai. Jika BBM ini naik namun seluruh pelayanan publik digratiskan seperti apa ya? Sekolah gratis, berobat gratis, fasilitas publik lainnya gratis. Apakah keadaan menjadi lebih baik? Atau malah membawa masyarakat menjadi tidak bertanggung jawab? Apakah itu semua akan menyelesaikan masalah orang-orang yang pernah bercerita dihadapan saya seperti di atas? Dan kalau dalam keadaan sekarang, kemana larinya uang subsidi BBM yang dicabut itu ? Ah, susah hidup di Indonesia. Terlalu banyak mikir. Terlalu banyak masalah.
Jadi, ketika pagi menjelang dan saya sudah terbangun dari tidur, saya teringat bahwa saya punya hutang. Hutang untuk berbagi cerita melalui blog keroyokan ini. Hutang untuk menulis pertama kali dalam blog TongSampahSociety ini. Saya sengaja tidak ingin menceritakannya dengan bahasa ‘dewa’. Saya sedang malas berpikir berat. Maka saya hanya berbagi berdasarkan pengalaman dan realita yang ada di sekeliling saya. Mumpung 2009 masih baru akan datang di tahun depan, barangkali masih ada harapan untuk membuka mata para wakil masyarakat diatas sana, berstrategi lebih cerdas untuk kita semua.
Yah, ternyata memang sulit ya, hidup di Indonesia. Bisa berubah nggak ya ?? (AS)
Posted in Social | Tagged demo, demonstran, indonesia |